Juni 13, 2026

GreatZone News: Jendela Informasi Dunia & Kabar Terhangat

Perluas wawasan Anda dengan GreatZone News. Menyediakan rangkuman berita global, teknologi, dan gaya hidup terkini dari berbagai belahan dunia.

Sabah Berduka: 1.000 Rumah Panggung Jadi Abu

Sabah Berduka: 1.000 Rumah Panggung Jadi Abu | JAKARTA – Kebakaran hebat melanda kawasan pemukiman padat penduduk di distrik Sandakan, Sabah, Malaysia, pada Minggu pagi (19/4/2026). Insiden memilukan ini menghanguskan sekitar 1.000 rumah panggung yang berdiri di atas air, menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi dan kehilangan seluruh harta benda mereka dalam hitungan jam.

Api dilaporkan mulai berkobar pada dini hari saat sebagian besar warga masih tertidur. Kecepatan perambatan api dipicu oleh material bangunan yang mayoritas terdiri dari kayu kering serta tata letak rumah yang dibangun berhimpitan di atas pesisir pantai. Angin laut yang bertiup kencang di wilayah timur laut Sabah ini turut mempersulit upaya petugas pemadam kebakaran untuk melokalisir titik api.

Skala Dampak yang Melumpuhkan

sabah-berduka-1-000-rumah-panggung-jadi-abu

Pihak berwenang setempat mengategorikan kebakaran ini sebagai salah satu bencana kebakaran pemukiman terbesar di Sabah dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Polisi Sandakan, George Abd Rakman, mengonfirmasi bahwa dampak dari musibah ini menyentuh angka yang sangat signifikan secara sosial dan kemanusiaan.

“Ini adalah insiden yang sangat besar dan memilukan. Berdasarkan pendataan awal, kebakaran ini berdampak langsung pada sedikitnya 9.007 penduduk,” ujar George dalam keterangannya yang dikutip dari harian The Star.

Kawasan yang hangus terbakar merupakan “desa air,” sebuah model pemukiman tradisional sekaligus darurat yang dihuni oleh komunitas marginal. Di dalamnya terdapat campuran masyarakat adat, warga berpenghasilan rendah, hingga kelompok tanpa kewarganegaraan (stateless) yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses infrastruktur.

Perjuangan di Tengah Kobaran Api

Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan suasana mencekam saat api pertama kali terlihat. Karena rumah-rumah dihubungkan oleh jembatan kayu yang sempit, evakuasi mandiri menjadi sangat kacau. Ribuan orang berlarian menuju daratan hanya dengan pakaian yang melekat di badan, sementara sebagian lainnya mencoba menyelamatkan barang berharga menggunakan perahu-perahu kecil.

Tim pemadam kebakaran dari Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia (JBPM) mengerahkan puluhan personel dan armada ke lokasi. Namun, mereka menghadapi kendala teknis yang berat. Selain akses jalan yang sulit ditembus kendaraan besar, tekanan air dari hidran di sekitar kawasan tersebut dilaporkan tidak mencukupi untuk memadamkan api yang sudah terlanjur membesar dan membentuk “badai api” di atas permukaan air.

Hingga berita ini diturunkan, petugas masih terus melakukan operasi pembasahan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa di bawah struktur kayu yang roboh ke laut. Meskipun kerusakan materiil diprediksi mencapai jutaan Ringgit, otoritas belum merilis laporan resmi mengenai adanya korban jiwa atau luka berat dalam tragedi ini.

Kondisi Pengungsian dan Bantuan Kemanusiaan

Pasca-kebakaran, ribuan penyintas kini tertampung di pusat-pusat evakuasi sementara (PPS) seperti aula serbaguna dan sekolah-sekolah di distrik Sandakan. Kebutuhan mendesak saat ini meliputi makanan siap saji, air bersih, perlengkapan bayi, serta pakaian layak pakai.

Kondisi di pengungsian terpantau sangat padat. Petugas kesehatan juga mulai disiagakan untuk mengantisipasi trauma psikologis serta potensi penyebaran penyakit akibat sanitasi yang buruk di lokasi penampungan. Pemerintah Negara Bagian Sabah telah berjanji untuk memberikan bantuan darurat, namun proses rehabilitasi jangka panjang bagi warga yang kehilangan rumah panggung tersebut masih menjadi tantangan besar.

Evaluasi Keamanan Desa Air

Tragedi ini kembali memicu perdebatan mengenai aspek keselamatan kebakaran di kawasan “desa air” Malaysia. Pola pemukiman yang tidak teratur, instalasi listrik yang seringkali ilegal dan serampangan, serta ketiadaan sekat api (firewall) menjadikan wilayah tersebut seperti “kotak korek api” yang siap terbakar kapan saja.

Para pengamat tata kota di Malaysia menyarankan agar pemerintah melakukan relokasi atau penataan ulang kawasan pesisir dengan material yang lebih tahan api. Namun, masalah status kewarganegaraan bagi sebagian penghuni seringkali menjadi kendala administratif yang membuat bantuan pembangunan kembali atau relokasi menjadi kompleks secara hukum.

Kini, ribuan warga Sandakan hanya bisa menatap puing-puing kayu yang menghitam di atas air. Bagi mereka, kebakaran ini bukan sekadar hilangnya bangunan fisik, melainkan hilangnya ruang hidup yang telah mereka tempati secara turun-temurun di pesisir Sabah. Otoritas kepolisian memastikan penyelidikan menyeluruh sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya api, apakah karena arus pendek listrik atau kelalaian domestik lainnya.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.