Juni 13, 2026

GreatZone News: Jendela Informasi Dunia & Kabar Terhangat

Perluas wawasan Anda dengan GreatZone News. Menyediakan rangkuman berita global, teknologi, dan gaya hidup terkini dari berbagai belahan dunia.

Mahkota Binokasih Asli Diarak Terbuka di Pawai Budaya Bandung

Mahkota Binokasih Asli Diarak Terbuka di Pawai Budaya Bandung | BANDUNG – Gelaran budaya akbar bertajuk Milangkala Tatar Sunda yang bergulir sejak awal Mei 2026 di Kabupaten Sumedang akhirnya resmi ditutup dengan sangat meriah di Kota Bandung, Jawa Barat. Acara pamungkas ini dikemas dalam bentuk pawai budaya kolosal, menampilkan berbagai atraksi kesenian tradisional yang berhasil memikat perhatian masyarakat luas sepanjang jalur perlintasan.

Parade yang berlangsung pada Sabtu (16/5/2026) tersebut memadati sejumlah ruas jalan utama di ibu kota Jawa Barat. Mengambil titik awal dari kawasan Kiara Artha Park, iring-iringan peserta pawai bergerak tertib melintasi Jalan Jakarta serta Jalan Supratman, hingga mencapai titik akhir di area Gedung Sate, Jalan Diponegoro. Ribuan warga tampak antusias berdiri di sepanjang trotoar demi menyaksikan momentum kebudayaan yang jarang terjadi ini.

Panggung Persatuan: Unjuk Gigi Kreativitas Seniman 27 Daerah

mahkota-binokasih-asli-diarak-terbuka-di-pawai-budaya-bandung

Dedi Supandi selaku Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Barat mengungkapkan bahwa helatan ini menjadi panggung apresiasi bagi para pelaku seni. Seluruh perwakilan dari 27 kabupaten dan kota di wilayah Jawa Barat turut berpartisipasi dengan membawa konsep pertunjukan orisinal yang merepresentasikan identitas daerah masing-masing.

Menariknya, kemeriahan pesta rakyat ini tidak hanya menjadi milik warga Jawa Barat semata. Panitia mencatat adanya keterlibatan delegasi kesenian dari berbagai provinsi lain di Indonesia. Mulai dari utara Sumatra yang diwakili oleh Aceh, hingga pulau Jawa yang diwakili oleh DKI Jakarta, Surakarta, Yogyakarta, Ponorogo, serta wilayah pantura seperti Tegal dan Brebes. Kehadiran mereka mempertegas pesan persatuan di tengah keberagaman adat nusantara.

Mengarak Saksi Sejarah: Keaslian Mahkota Binokasih yang Autentik

Satu hal yang paling menyedot perhatian publik sekaligus menjadi magnet utama dalam kirab ini adalah diaraknya Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Benda pusaka yang menjadi simbol kejayaan dan kedaulatan peradaban Sunda kuno tersebut dibawa secara terbuka di tengah-tengah pawai, memicu kekaguman mendalam dari para pengunjung yang memadati rute jalanan.

Untuk menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat, penyelenggara menegaskan status orisinalitas dari mahkota tersebut. Dedi memastikan bahwa atribut sakral yang diperlihatkan kepada publik sepanjang kirab ini adalah barang peninggalan sejarah yang autentik, bukan properti buatan atau tiruan.

“Meskipun versi replikanya tersimpan di Sumedang, namun untuk kebutuhan kirab budaya kali ini, mahkota yang kami bawa adalah 100 persen yang asli. Langkah berani ini sengaja kami ambil sebagai bentuk penegasan kepada generasi muda dan publik luas bahwa Jawa Barat memiliki akar sejarah serta kekayaan nilai luhur yang sangat luar biasa sejak masa lampau,” papar Dedi lewat pernyataan resminya, Rabu (20/5/2026).

Antisipasi Medis di Rute Pawai dan Rencana Rotasi Event

Mengingat lautan manusia yang memadati area ruang publik, panitia memberikan perhatian khusus pada sektor keselamatan. Sejumlah posko kesehatan darurat bersama armada ambulans disiagakan secara berkala di sepanjang jalur kirab. Tim medis disiapkan untuk mengantisipasi adanya penonton yang mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan mendadak, walau masyarakat tetap diimbau untuk memastikan kondisi fisik mereka prima sebelum datang ke lokasi.

Keseruan agenda tidak berhenti pada parade siang hari saja. Pada Minggu (17/5/2026) malam, kemeriahan berlanjut lewat panggung hiburan Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda yang mengambil tempat di halaman Parkir Barat Gedung Sate. Acara ini memadukan ritme musik tradisional dengan sentuhan tata panggung modern.

Menatap pelaksanaan pada periode mendatang, pihak panitia sudah menyiapkan strategi baru. Dedi membeberkan bahwa lokasi penyelenggaraan Milangkala Tatar Sunda berikutnya akan dipindahkan ke daerah lain secara bergilir, menyasar wilayah-wilayah di Jawa Barat yang belum mendapatkan kesempatan pada tahun ini.

Kabar baiknya, seluruh rangkaian pertunjukan kebudayaan ini, mulai dari pawai di jalanan hingga panggung hiburan di Gedung Sate, dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya tiket masuk.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.